Glkkglkkk.. “Uhhh leganya..” dalam
benak amir. Melepas hausnya
dengan air dari keran masjid…
Hari ini dia berjalan menyusuri
jembatan gantung itu, di bawah
teriknya matahari yang begitu
menyengat siang itu, ya hanya
inilah yang bisa dia lakukan untuk
menyambung hidupnya dan adik-
adiknya..
Dikaisnya lembar demi lembar
tumpukkan sampah kertas itu..
“Ya Robb… huft, kenapa tak ada
satu pun yang bisa kuambil… dan
ku bawa pulang”, pikirnya.
Tapi dia terus berjalan tanpa
menyerah, yang ada di benaknya
hanyalah bagaimana caranya
agar adik-adiknya tak kelaparan
malam ini.
Piiimmm… suara klakson mobil
yang mengejutkan amir saat itu.
“heyyy… loe punya mata nggak
sih?!”, teriak orang dalam mobil
itu.
“maaf mas, maaf…”, jawab
amir, yang saat itu memang
sedang melamun.
Mobil itu melaju dengan kencang,
meninggalkan bayangan pedih
dalam hati amir, dia selalu
bermimpi bisa jadi orang kaya,
agar adik-adiknya tak kelaparan
lagi, dan mereka bisa bersekolah.
Ya hanya itu keinginan terbesar
amir..
“kak amir pulang… yeyeye..”,
teriak adik-adiknya dari kejauhan..
Amir memandangi adiknya
dengan pandangan yang begitu
sakit, dia sedih karena hari ini dia
tak bisa membawakan makanan
enak untuk mereka..
“ini kita makan dulu, maaf ya
kakak gak dapat banyak uang hari
ini, jadi kita makan nasi bungkus
aja hari ini, tapi kakak janji
Insyaallah kalau besok kakak
dapat uang banyak, kita beli ayam
goreng”, jawab Amir
menyemangati adik-adiknya.
Mereka pun makan dengan
lahapnya walau harus berbagai
tetapi mereka terlihat begitu
menikmati makanan mereka
malam itu.
Pagi ini Amir bertemu dengan
seorang pengemis dia membawa
anaknya, dilihatnya,
diperhatikannya mereka.. nampak
dari jauh bapak tua itu sedang
mengolesi obat merah pada kaki
anaknya yang sudah terbalut kain
perban tebal..
Dalam hati amir berfikir, “apalah
sebenarnya yang mereka
lakukan, kalau memang luka,
kenapa di perban dulu baru diberi
obat merah?”, tanya Amir dalam
hati..
Dia semakin penasaran,
didekatinya bapak tua itu, rasa
takutnya tak menyurutkan
niatnya untuk tau, lalu dia
bertanya pada orang itu..
“pak, kaki anak bapak kenapa?
Apakah dia habis kecelakaan”,
tanya amir pura-pura tak paham.
“bukan urusan kamu!! kami
melakukan ini agar itu orang-
orang dipinggir jalan sana kasihan
pada kami… dengan seperti ini
kan mereka pasti iba melihatnya,
terus kaleng kami ini penuh
dengan uang-uang untuk kami
makan!”, jawab bapak itu ketus,
lalu mereka berlalu meninggalkan
amir.
“Ya Tuhan, ternyata mereka
memilih membohongi orang-
orang hanya demi sesuap nasi..
apakah ini yang Ingin Engkau
tunjukan padaku..?”, gumam amir
dalam hati.
Amir dan adik-adiknya memang
salah 1 dari sekian banyak anak-
anak yang kurang beruntung di
tengah kejamnya ibukota.
Tapi dia tak pernah berfikir
sekalipun untuk mencari uang
dan memberi makan adik-adiknya
dengan cara hina seperti itu…
Dia hanya bisa mengelus dada,
mendengar jawaban bapak tua
tadi, dia terus berharap dia tak
kan pernah jadi seperti itu…
Dia pullang seperti biasanya, hari
ini dia cukup membawa uang
bayak hasil dia memulung hari
ini… dan akhirnya dia bisa
menepati janjinya tempo hari
pada adik-adiknya, ya.. ayam
goreng..
Dia percepat jalannya, tak sabar
ingin melihat senyum ceria di
muka adik-adiknya..
“Andi, dina, kakak pulang.. coba nih
tebak kakak bawa apa..”. katanya
girang.
Tapi tiba-tiba raut wajah itu
berubah menjadi begitu cemas
saat dia melihat adiknya Dina
terbaring lemas di tempat tidur…
“Andi, dyna kenapa, kenapa
wajahnya pucat seperti ini,
kenapa dia panas juga?”, tanya
Amir semakin khawatir.
“Andi gak tau kak, tadi tiba-tiba
dek dina bilang kepalanya pusing..”,
jawab andi menangis.
Amir bingung saat itu, dia bingung
harus berbuat apa, kalau harus ke
dokter pasti biayanya mahal,
sedangkan di kantongnya hanya
ada uang 5 ribu.
Akhirnya dia memutuskan untuk
pergi ke warung membeli obat
demam untuk dyna. Panas Dina
sedikit menurun malam itu, dia
pun bisa tertidur lelap…
Cerpen Karangan: Manda Ms
Facebook: http://facebook.com/
noepliexzt
Ini merupakan c
mantap gan ceritanya. Jangan lupa kunjungi blog ku?
BalasHapusthanks masbro :) tunggu kunjungannya .
BalasHapus